banner 728x90
Sosial  

Hadir di Jambore lll, Komunitas Banyu Bening Dorong Pemanfaatan Air Hujan sebagai Solusi Krisis Air

banner 468x60

Banyuwangi, Delikjatim.com – Pemanfaatan air hujan kembali digiatkan oleh Komunitas Banyu Bening, sebuah gerakan masyarakat yang dipimpin Sri Wahyuningsih atau akrab disapa Bu Ning.

Komunitas yang juga hadir di Jambore lll Banyuwangi ini lahir dari keresahan atas krisis air bersih di berbagai daerah, sekaligus menghidupkan kembali budaya leluhur dalam memanfaatkan air hujan secara bijak.

banner 336x280

Tidak hanya baik untuk dikonsumsi biasa, lebih dari itu air hujan yang diproduksi melalui proses yang benar oleh Komunitas Banyu Bening ini juga baik untuk dikonsumsi dalam sajian minuman lain seperti kopi, teh dan lainnya.

Menurut Bu Ning, persoalan air bukanlah hal baru, namun masyarakat kerap melupakan konsep dasar pengelolaan air hujan. “Kami hanya membuka kembali budaya masyarakat yang dulu dilakukan nenek moyang kita. Yang paling penting adalah komitmen dan konsistensi. Kalau kebaikan sudah menjadi nafas, apapun tantangannya harus tetap jalan,” ujarnya.

Komunitas Banyu Bening mengusung konsep 5M dalam mengelola air hujan, yakni Menampung, Mengolah, Meminum, Menabung, dan Mandiri air. Prinsip ini menekankan pentingnya menampung air hujan sesuai kebutuhan, mengolahnya agar layak konsumsi, menyimpannya sebagai “lumbung air hujan” untuk musim kemarau, sekaligus mengembalikan sisanya ke tanah demi keberlanjutan lingkungan.

Gerakan ini pertama kali dimulai di Dusun Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, pada Tahun 2012. Hingga saat ini, jaringan Banyu Bening telah berkembang ke berbagai daerah, termasuk Jawa Timur (Waru, Sidoarjo, Juanda, Kenjeran), Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Merauke. Meski jumlahnya belum besar, Bu Ning menegaskan konsistensi lebih penting daripada sekadar jumlah anggota.

Tantangan utama yang dihadapi adalah mengubah stigma masyarakat terhadap air hujan. “Banyak yang masih menganggap air hujan negatif. Cara kami menepis itu hanya lewat praktik nyata. Orang harus lihat bukti bahwa air hujan bisa dikonsumsi dengan aman,” kata Bu Ning.

Dari sisi manfaat, Banyu Bening menilai air hujan memiliki nilai ekonomi karena gratis, lebih sehat karena paparan polutannya lebih rendah dibanding air tanah, serta mampu mencegah konflik sosial akibat perebutan sumber air. Lebih jauh, gerakan ini juga dianggap sebagai upaya pelestarian budaya dan bagian dari mitigasi perubahan iklim.

“Bicara air adalah bicara peradaban. Kalau hari ini kita menghabiskan air tanpa bijak, generasi berikutnya akan menanggung akibatnya. Dengan memanen air hujan, kita bisa mandiri sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem,” tegas Bu Ning.

Komunitas Banyu Bening berharap gerakan kecil ini bisa menginspirasi banyak pihak untuk ikut menjaga ketersediaan air bersih melalui pemanfaatan air hujan.

banner 336x280
Penulis: Syaiful Editor: Redaksi
banner 728x90
error: Artikel terproteksi !!
Exit mobile version