Surabaya, Delikjatim.com – Semarak menyambut Hari Ulang Tahun ke-78 Kemerdekaan Indonesia sangat ditunggu tunggu oleh siswa untuk bisa diikuti, meski bukan lomba yang dilakukan tetapi berbagai macam kegiatan kebersamaan tidak kalah serunya dengan lomba, karena siswa turut aktif berpartisipasi dan semua siswa kita berikan penghargaan.
Demikian disampaikan Listianah SEI, selaku Kepala SD Muhammadiyah 22 Surabaya.
“Semangat kebersamaan akan menambah persaudaraan dan persatuan khususnya dilingkungan sekolah, seperti kegiatan menulis dengan spidol yang diikat 5 tali untuk dipegang dan menulis butuh kerjasama dan kekompakan, kemudian menggelar treatikal kolosal Gelora Kemerdekaan yang melibatkan seluruh siswa kelas 4, 5 dan 6, dengan tema perjuangan saat penjajahan Belanda, saat penjajahan Jepang dan prosesi kemerdekaan dengan pembacaan teks Proklamasi”, jelasnya.
“Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan semangat persaudaraan, cinta tanah dan siap mengisi kemerdekaan”, imbuhnya.
Ustadz Karim selaku panitia menambahkan, setelah menggelar treatikal pada hari Selasa 15 Agustus 2023, pada hari Rabu, 16 Agustus 2023 dilangsungkan pawai perjuangan dengan berbagai kostum pakaian perjuangan, profesi dan burung Garuda melintasi perkampungan dan terlihat beberapa siswa berbagi bendera merah putih pada anak anak yang sedang melihat karnaval.
“Selepas karnaval dilakukan parade membaca Teks Proklamasi menggunakan bahasa Inggris, Arab dan bahasa daerah Madura. Sebelum parade membaca proklamasi oleh siswa diperdengarkan terlebih dahulu rekaman pembacan teks proklamasi oleh Soekarno”, tuturnya.
Kania Khairunnisa Qatrunnada siswa kelas 4C yang bercita-cita menjadi arsitek mendapat bagian membaca teks proklamasi bahasa Inggris, kemudian dilanjut Keyndra Daniswara AA kelas 6 D, membaca teks Proklamasi dengan bahasa Arab, terakhir dibacakan teks Proklamasi oleh Safa Aisyah Tasmirah kelas 6 C yang bercita cita menjadi dokter dengan bahasa Madura. Suasana meriah dengan pekikan merdeka bersahutan.
Ustadz Andi Hariyadi selaku Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya menambahkan, pembacaan bahasa asing dan lokal ini sebagai upaya menyebar berita kemerdekaan ke negara negara dunia.
“Pada tanggal 17 Agustus 1945 saat pembacaan teks proklamasi di Jakarta, di Surabaya kondisi keamanan belum memungkinkan dan keterbatasan informasi, maka RRI Stasiun Surabaya menginformasikan kemerdekaan bangsa dengan membaca teks proklamasi berbahasa Madura sebagai strategi berkomunikasi dan efektif sekali, sehingga arek arek Suroboyo segera bangkit bersama untuk bersyukur atas kemerdekaan dan berjuang dengan penuh keberanian menyatakan kemerdekaan Indonesia”, pungkasnya.
















