Surabaya, Delikjatim.com – Pimpinan Daerah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (PD IGABA) Kota Surabaya menggelar agenda rutin setiap bulan suci Ramadhan yaitu Pondok Romadhon 1443 H/2022 M, Ahad (10/04/2022).
Dalam sambutannya, Ketua PD IGABA kota Surabaya menyampaikan, kegiatan Pondok Romadhon 1443 H dilaksanakan secara bergiliran sebanyak tiga gelombang, bertempat di SD Muhammadiyah 12 Surabaya.
Narasumber Pondok Ramadhan, sekaligus kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya periode 2014-2018, Edy Susanto, M.Pd menjelaskan bahwa suatu sekolah banyak ditentukan oleh kinerja guru dan tenaga kependidikan (karyawan)nya. Hal itu tidak lepas dari pengaruh sosok kepala sekolah sebagai pemimpin.
“Pengaruh kepala sekolah yang kuat membawa dampak positif untuk kemajuan sekolahnya. Kepala sekolah yang hebat mampu mempengaruhi dan memotivasi guru dan orang yang dipimpinnya dalam kondisi normal dan upnormal. Kepala sekolah yang hebat juga memiliki energi besar untuk memengaruhi dan mengarahkan guru juga orang yang dipimpinnya dalam menjalankan tugas berat dan menantang”, papar Edy.

Masih dengan Edy memaparkan, tidak sedikit kepala sekolah yang gagal mempengaruhi guru karena kurangnya pengetahuan, keterampilan, kepercayaan diri, kematangan emosi, dan gagal menjadi model keteladanan. Kepala sekolah yang tidak memiliki pengaruh yang kuat akan berdampak pada guru dan orang yang dipimpinnya melakukan hal-hal yang kurang sesuai dengan harapannya.
“Menjalankan tugas karena ada imbalan yang besar, mengerjakan tugas tidak tuntas juga asal-asalan, sulit diajak maju, kurang peduli terhadap masalah yang sedang melilit sekolah, serta tidak peduli terhadap keluhan pelanggan. Yang penting bagi mereka adalah kerja untuk menghabiskan waktunya, mudah puas dengan apa yang sudah dikerjakan, serta sok sibuk tanpa target dan tujuan yang jelas. Hal demikian dapat berakibat buruk pada citra kewibawaan maupun martabat sekolahnya”, terang Edy.
Lanjut Edy mengatakan, bahwa kepala sekolah dimana pun sudah tentu tidak mengharapkan kebangkrutan sekolahnya karena disebabkan oleh guru yang tidak loyal, komitmen, dan profesional. Di sisi lain, butuh proses, strategi, (SWOT) dan pendekatan khusus untuk menjadikan guru loyal, komitmen dan profesional. Banyak cara (metode) atau tips untuk menjadikan mereka memiliki loyalitas, komitmen dan profesional yang tinggi.
“Kepala sekolah perlu memainkan peran guru dalam kegiatan-kegiatan yang menantang dan dianggap penting, percaya kemampuan yang dimiliki, memudahkan urusannya, mengapresiasi hasil karyanya, suka memaafkan, mendelegasikan tugas, melibatkan guru dalam mengambil keputusan, adil, dan menyejahterakan, serta masih banyak cara lain untuk menjadikan guru loyal, komitmen dan profesional”, tegas Edy
“Hal tersebut dikhususkan bagi Guru dan Tendik dilingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan Aisyiyah yang sama-sama kita cintai dan banggakan”, tutup Edy. (Yuda).
Editor : Redaksi

















