Surabaya, Delikjatim.com – Peringatan Hari Pahlawan menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga. Mereka ikut meramaikan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari upacara, jalan sehat, bazar, nonton bareng film perjuangan arek-arek Suroboyo, hingga pementasan drama kolosal.
Seperti halnya yang dilakukan warga bersama pemuda karang taruna (kartar) Dupak Bandarejo II RT. 06 RW. 03 Kelurahan Dupak Kecamatan Krembangan Surabaya yang menggelar pementasan drama kolosal di depan balai RT, Minggu (13/11/2022).
Ketua panitia pelaksana, Firmansyah Romadhon yang biasa dipanggil Dona menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mengingatkan anak-anak karang taruna RT. 06 Dupak Bandarejo II bahwa jangan pernah melupakan sejarah.
“Karena sejarah itu awal mula dari rasa kebangsaan yang hadir di hati para pemuda karang taruna”, terang Firmansyah.
Masih dengan Firmansyah, ada sebuah ide dari warga RT 06 Dupak Bandarejo karena setiap tahun selalu memutar film perjuangan arek-arek Suroboyo 10 November, kali ini dibuat beda dengan menggelar drama kolosal yang diperankan oleh mayoritas para pemuda karang taruna itu sendiri.
“Kegiatan tersebut digelar supaya mereka tahu seperti apa jalannya sejarah mulai dari pendudukan Jepang, hingga peristiwa 10 November itu seperti apa”, papar Firmansyah.
Firmansyah berharap, pementasan drama kolosal perjuangan arek-arek Suroboyo dapat menumbuhkan rasa kebangsaan, rasa kecintaan terhadap kota Surabaya, dan jangan pernah melupakan jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk bangsa Indonesia khususnya untuk Surabaya.

Sementara itu, Ketua RT 06 Sutikno, S.Sos. sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh kartar dalam menyambut Hari Pahlawan dengan menggelar drama kolosal.
“Luar biasa dukungan dari seluruh warga dimana hampir semuanya terlibat, saya sampaikan banyak terima kasih kepada seluruh warga dalam mendukung kegiatan tersebut, juga sutradaranya bu Rini yang sudah membantu membuat alur cerita naskahnya”, papar Sutikno.
Masih dengan Sutikno, alur cerita drama kolosal disajikan mirip dengan penyobekan bendera di hotel Yamato, namun diberi tambahan kreasi supaya lebih menarik.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan tersebut, anak-anak muda bisa mengetahui sejarah bagaimana peristiwa 10 November di Surabaya, kota tercinta kita di luluh lantakkan oleh Tentara Belanda NICA (Netherlands Civil Administration) yang membonceng tentara sekutu pimpinan Inggris serta menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangsa bagi generasi muda”, harap Sutikno.
“Alhamdulillah, tadi setelah pementasan drama kolosal, juga dibagikan 35 doorprize berupa minyak dan gula kepada warga”, tutup Sutikno.

















