Sumenep, Delikjatim.com – Warga Kepulauan Masalembu Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep Madura, mengeluh dan menyayangkan pembatalan keberangkatan tiga Kapal KM Sabuk Nusantara oleh PT Pelni, tujuan Masalembu.
Tiga kapal yang gagal berangkat adalah KM Sabuk Nusantara 91, mestinya berlayar pada Kamis (20/7/2023), dari Surabaya tujuan Masalembu. KM Sabuk Nusantara 92 harusnya berangkat pada Sabtu (22/7/2023), dari Kalianget tujuan Masalembu. Dan KM Sabuk Nusantara 99, jadwal berangkat Senin (24/7/2023), dari Surabaya tujuan Masalembu.
Warga Desa Masalima Masalembu, Ipung (sapaannya) kepada awak media mengatakan, pembatalan keberangkatan tiga kapal tersebut mengacu pada Prakiraan Cuaca yang dikeluarkan pihak BMKG.
“Tapi itu kan baru prakiraan bukan faktual. Kenyataannya kapal nelayan lokal dengan GT 3 dan GT 4 saja bisa melaut. Masak iya KM Sabuk Nusantara 91 yang terbuat dari besi dan berukuran cukup besar ketimbang perahu Nelayan, dengan ukuran GT 2000, KM Sabuk Nusantara 92 dan 99 dengan GT 1000 gak berani operasi” tegasnya dengan nada tinggi.
Ia meneruskan, tidak menutup kemungkinan jika kondisi ini terus berlanjut, Masalembu akan mengalami krisis pangan episode ke dua. Saat ini kelangkaan sayur, bawang, tomat dan lainnya sudah mulai terasa.
Masalembu ini Kepulauan Bos, lanjut Ipung, transportasi laut adalah prioritas utama dalam menunjang keberlangsungan hidup dan perputaran ekonomi Masyarakat.
“Kami disini sudah cukup menderita dengan nihilnya fasilitas penerangan dari Pemerintah selama bertahun tahun, jalan umum gak karuan, jangan tambah lagi dengan masalah yang mengancam kelangkaan sembako dan kebutuhan pokok lainnya” ungkapnya menahan emosi.
Ia berharap Pemerintah segera ambil sikap dan pihak Pelni lebih bijak mempertimbangkan segala aspek dalam hal pemberangkatan dan penundaan Kapal. imbuhnya.
Terpisah, Tokoh Masyarakat Masalembu, Ideris Bahri menilai, akan banyak dampak bermunculan jika kapal tujuan Masalembu ditunda dan diulur dengan dalih prakira, prasangka dan sejenisnya.
“Masyarakat Masalembu ini lebih takut pada kelaparan daripada kematian” sebutnya.
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya berdampak pada hal yang krusial saja, namun juga akan memicu lahirnya permasalahan sosial dan lainnya.
“Ketika melihat pada kasus yang sama di tahun sebelumnya, maka imbas yang akan membias adalah kasus penumpang terlantar, hingga minta-minta untuk bertahan karena kehabisan bekal, dan ini sering terjadi bahkan jadi viral, di pelabuhan Kalianget Sumenep maupun di Perak Surabaya. Kalau petugas Pelni Cabang Surabaya orang lama pasti paham soal ini” ungkapnya.
Kemudian lanjutnya, Warga kepulauan khususnya Masalembu, yang punya kepentingan bersifat mendesak, mereka pasti nekad naik perahu nelayan, entah itu perahu milik sendiri maupun dengan carter walau mahal.
Fenomena ini biasa terjadi dan dialami oleh kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang wajib menghadiri momen formal atau undangan kedinasan.
“Yang kasihan lagi kalau orang sakit keras, ibu yang mengalami kendala kandungan dan harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Daerah, mereka sudah pasti nekad berangkat, kalau gak ada kapal maka opsi tunggalnya pake perahu lokal. Nah pertanyaannya adalah apakah fenomena itu yang ingin mereka saksikan” ucapnya.
Tegas Bahri melanjutkan, lalu kemudian apakah pemerintah baru akan sibuk turun tangan, terjunkan kapal pendukung, berlomba kirim bantuan sembako dan lain-lain ? Bukankah pencegahan itu lebih baik dari pengobatan ?
Atas dasar itulah kata Bahri, pihak pemerintah maupun Pelni berembuk ulang secepatnya agar gejolak klasik ini tidak terjadi berulang-ulang.
“Apalagi semakin dekat dengan pesta politik akbar, jangan sampai warga kami jadi bahan instrumen politik pemangku kepentingan” tutupnya.

















