20230111_185931
20230111_185931
Shadow
Sosial  

Perjuangan Tak Kenal Uji: Pak Abdullah Bangun Pilar Dakwah di Pakis Gunung Surabaya

120x600
banner 468x60

Surabaya, delikjatim – Di tengah masyarakat Pakis Gunung yang dulu dikenal ‘hitam’ dan penuh tantangan, Pak Abdullah Sholeh menorehkan kisah heroik dakwah dan kemanusiaan. Guru agama Muhammadiyah berusia 80 tahun ini, yang dibesarkan dengan semangat “Besarkan Muhammadiyah, jangan makan dari Muhammadiyah“, berhasil merintis Panti Asuhan Al-Amin dari nol hingga menjadi benteng akidah ratusan anak.

Kisah dimulai pada 1975, saat Pak Abdullah—lulusan PGA Negeri Malang 1964—pindah ke Pakis Gunung.

Saat itu, masjid belum ada, gereja sudah berdiri kokoh, dan santunan umat Nasrani menggoda warga miskin. “Masyarakat takut dengan orang Pakis, tingkah lakunya kasar,” kenangnya. Bersama Almarhum Pak Yulianto dan Pak Samadi, ia memulai dakwah di Masjid Al-Amin untuk selamatkan akidah warga.

Dari Rumah Sederhana ke Panti Megah

Rumah Pak Abdullah jadi markas pertama. Ia tarik anak-anak dari santunan gereja untuk mengaji sekaligus dapat bantuan. Meski dicibir “sombong” dan dihantui korupsi oknum penyantun, perjuangan mereka menang. Gereja mundur perlahan seiring kegiatan Islam menggeliat.

Puncaknya di 1988: Mereka beli tanah Rp10 juta untuk panti asuhan.

Pembangunan 1990-1997 didukung mukjizat—sumbangan deras dari Pak Harto, Akbar Tandjung, Jenderal Yusuf, dan donatur lain. Kini, panti punya tiga gedung, santuni anak TK-SMA via jaringan guru dan donatur bulanan yang bertahan hingga sekarang.

Prinsip Antikorupsi dan Estafet Kepemimpinan

Pak Abdullah kelola dana ketat: uang santunan untuk kebutuhan sekolah, bukan dibagi-bagi sia-sia. Contoh, tabungan anak asuh Fauzin jadi motor Mio. Saat serahkan tongkat estafet 2013, sisa kas Rp130 juta diserahkan utuh. “Harta panti untuk panti, bukan pengurus. Rumah saya sederhana kalau korupsi,” tegasnya.

Kini, via Yayasan Abdullah Sholeh, ia tetap dakwah aktif. Kekuatan? Tahajud, sedekah, dan teladan orang tua buta huruf tapi kuat iman. “Seperti tanam pohon kurma, anak cucu yang panen. cita-citaku: panti punya sekolah,” ujarnya.

Kisah Pak Abdullah jadi pengingat: ketulusan dakwah Muhammadiyah tak kenal henti, lahirkan berkah abadi bagi generasi mendatang.

banner 336x280
Penulis: Adi Pramono/YudaEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Artikel terproteksi !!