20230111_185931
20230111_185931
Shadow

Jangan Malas, Dunia Terlalu Luas

120x600
banner 468x60

Oleh: Hasan Cholis, S.E (Mahasiswa S2 M.H.E.S. Sekolah Pasca Sarjana UMSURA)

Ada kalimat sederhana yang sering terdengar di sekitar kita: “Anak muda sekarang malas.” Kalimat itu mudah diucapkan, tetapi terlalu sederhana untuk menjelaskan persoalan generasi muda hari ini. Sebab, di balik kemalasan ada persoalan mentalitas, ketimpangan kesempatan, perubahan teknologi, bahkan cara kita memahami kesuksesan.

Namun, satu hal patut direnungkan: jangan sampai keterbatasan keadaan berubah menjadi alasan untuk berhenti bergerak.

Dunia hari ini terlalu luas untuk dijalani hanya dengan menunggu lowongan pekerjaan. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026 secara tahunan. Pada Februari 2026, angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang dan penduduk bekerja 147,67 juta orang.

Data itu menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus bergerak, tetapi sekaligus memperlihatkan betapa besar kompetisi di dalamnya.

Di sinilah generasi muda perlu mengubah cara pandang. Pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Di mana saya akan bekerja?” tetapi juga, “Nilai apa yang dapat saya ciptakan?”
Karl Marx mengingatkan bahwa manusia dalam sistem kapitalisme berhadapan dengan struktur ekonomi yang dapat menempatkan dirinya sebagai bagian dari proses produksi. Dalam konteks hari ini, kritik tersebut tetap relevan, tetapi generasi muda tidak boleh berhenti sebagai objek. Mereka perlu memiliki keterampilan, pengetahuan, jaringan, dan keberanian untuk menjadi subjek ekonomi.

Berbisnis, misalnya, tidak harus selalu dimulai dengan modal besar. Bisnis dapat lahir dari persoalan sederhana di sekitar kita: makanan, jasa, teknologi, pendidikan, pertanian, ekonomi kreatif, hingga perdagangan digital. Modal pertama bukan selalu uang, melainkan kepekaan membaca kebutuhan.

Masalahnya, sebagian anak muda justru terjebak dalam budaya menunggu. Menunggu pekerjaan ideal, menunggu modal, menunggu peluang, bahkan menunggu orang lain membuka jalan. Padahal, dunia bergerak tanpa menunggu siapa pun.

Di titik ini, gagasan Michel Foucault tentang kuasa dan pengetahuan juga relevan. Pengetahuan bukan sekadar sesuatu yang disimpan di ruang kelas. Pengetahuan menentukan bagaimana seseorang membaca dunia dan memosisikan dirinya di dalamnya. Anak muda yang memiliki pengetahuan tetapi tidak mampu mengubahnya menjadi keterampilan akan tertinggal. Sebaliknya, keterampilan tanpa pengetahuan dapat membuat seseorang mudah terseret arus.

Karena itu, pendidikan generasi muda harus bergerak dari sekadar mengejar ijazah menuju kemampuan menciptakan nilai. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan pencari kerja. Ia juga perlu melahirkan pencipta kerja, inovator, pengusaha, peneliti, dan manusia yang mampu memecahkan masalah.

BPS sendiri menempatkan pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi sosial-ekonomi, dan berbagai dimensi kehidupan pemuda sebagai bagian penting dalam Statistik Pemuda Indonesia 2025. Ini menunjukkan bahwa persoalan pemuda memang tidak dapat dibaca hanya dari angka pengangguran, tetapi harus dilihat sebagai persoalan pembangunan manusia secara menyeluruh.

Maka, “jangan malas” seharusnya bukan sekadar nasihat moral. Ia harus menjadi ajakan untuk terus belajar, mencoba, gagal, mengevaluasi, lalu mencoba kembali.

Generasi muda tidak harus menjadi kaya secepat mungkin. Mereka hanya perlu memastikan bahwa setiap tahun dirinya bertumbuh: lebih terampil, lebih berani, lebih produktif, dan lebih bermanfaat.
Sebab dunia terlalu luas untuk hanya ditonton dari layar. Terlalu banyak peluang untuk sekadar dikeluhkan. Terlalu banyak persoalan untuk hanya dikomentari.

Jangan malas. Belajarlah. Bergeraklah. Berbisnislah jika itu jalanmu. Ciptakan sesuatu. Karena dunia tidak pernah kehabisan ruang bagi mereka yang mau bertumbuh.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Artikel terproteksi !!