Surabaya, delikjatim – Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kota Surabaya menggelar Pelatihan Penulisan dan Publikasi Kelembagaan bagi para pendidik PAUD dan TK Aisyiyah se-Kota Surabaya pada Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula AR. Fachruddin Lantai 4 SD Muhammadiyah 11 Surabaya ini diikuti oleh puluhan guru yang tampak antusias untuk mengasah kecakapan literasi digital dan kehumasan mereka.
Mengusung tema “Guru Kreatif Jurnalis Inspiratif: Meningkatkan Keterampilan Menulis dan Publikasi Kelembagaan Pendidikan”, pelatihan ini dirancang khusus untuk membekali para pendidik agar Mampu mendokumentasikan serta mempublikasikan berbagai program unggulan, kegiatan positif, hingga prestasi sekolah secara profesional.
Peran Penting Kehumasan dan Literasi Digital
Ketua Majelis PAUD Dasmen PDA Kota Surabaya, Dra. Nurul Kartika, menegaskan pentingnya penguatan peran kehumasan di tengah pesatnya perkembangan media dan era keterbukaan informasi. Menurutnya, tata kelola publikasi yang terstruktur merupakan kunci utama dalam membangun reputasi dan citra positif lembaga di mata publik.
“Di tengah era digital dan keterbukaan informasi saat ini, peran kehumasan dan publikasi sekolah menjadi salah satu aspek penting untuk membangun citra positif lembaga di mata masyarakat luas,” tegasnya.
Harapan Besar untuk Guru dan Lembaga
Lebih lanjut, Nurul Kartika menyampaikan pesan dan harapan besarnya terhadap keberlanjutan hasil pelatihan ini. Ia mendorong seluruh peserta untuk langsung mempraktikkan ilmu yang didapat dalam keseharian sekolah, diantaranya:
Pertama, Aktif Mempublikasikan Kegiatan Sekolah
Setiap pendidik PAUD dan TK Aisyiyah se-Kota Surabaya diharapkan tidak hanya terampil mengajar, tetapi juga mampu menulis dan mengelola media publikasi minimal untuk sekolah masing-masing.
Kedua, Siap Bersaing di Tingkat Lebih Tinggi
Dengan fondasi literasi digital dan penulisan berita yang kuat, para guru diharapkan makin percaya diri untuk berpartisipasi dalam berbagai ajang perlombaan penulisan karya jurnalistik maupun kehumasan, serta mampu bersaing dengan daerah-daerah lain.
“Melalui agenda ini, IGABA Kota Surabaya berkomitmen untuk terus mencetak pendidik yang tidak hanya kreatif di dalam kelas, tetapi juga inspiratif dalam mengabarkan kebaikan dan prestasi sekolah kepada masyarakat luas,” harapnya.
Sementara itu, narasumber Aan Haryono, SE., M.Med.Kom menjelaskan, menulis itu bagai pisau. Semakin sering diasah, semakin tajam. Maka menulis lah terus menerus.
Koordinator Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur ini memotivasi para peserta dengan berbagi tips menulis untuk pemula.
Menurutnya, tidak ada penulis hebat yang lahir instan. Semua berawal dari kebiasaan sederhana, yakni membaca dan menulis.
Aan menegaskan langkah pertama untuk jadi penulis adalah gemar membaca.
“Ingin jadi penulis maka dimulai dari membaca. Karena membaca mampu membuka wawasan dan gagasan untuk merangkai ide-ide menjadi rangkaian tulisan,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar tidak bingung mencari tema. Tulis saja hal-hal yang dekat dengan lingkungan kita sehari-hari.
“Banyak orang tidak jadi menulis karena khawatir tulisannya tidak sesuai. Padahal tulisan terbaik lahir dari apa yang kita lihat, rasakan, dan alami sendiri,” tambahnya.
4 Kunci Menulis Menurut Aan Hariyono
Agar tulisan mengalir dan tidak terhambat rasa takut, Aan membagikan 4 prinsip penting:
- Jangan menulis sambil mengedit. “Selesaikan dulu tulisan, urusan rapi-rapi belakangan,” ucapnya.
- Bebaskan pikiran supaya selesai dalam menulis. Jangan biarkan kritik di kepala menghentikan jari mengetik.
- Kuncinya jangan ada beban, buat hari bahagia. Menulis akan enak kalau suasana hati sedang ringan.
- Menulis tidak hanya pakai daya pikir tapi pakai hati.
Tulisan yang menyentuh lahir dari kejujuran dan perasaan.
Asah Terus, Jangan Takut Salah
Menurut Aan, kesalahan terbesar calon penulis adalah menunggu “sempurna” dulu baru mulai. Padahal kemampuan menulis hanya akan terasah lewat latihan.
“Kalau pisau tidak pernah dipakai dan diasah, dia akan tumpul. Begitu juga kemampuan menulis. Jadi jangan tunggu mood, jangan tunggu sempurna. Tulis saja dulu,” tutupnya.
Pesan ini menjadi pengingat bagi siapa saja yang ingin memulai: membaca, menulis, dan mengulanginya setiap hari. (Yuda)















