Surabaya, delikjatim – Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, menemukan masjid yang membiarkan pintunya terbuka selama 24 jam bukanlah hal yang mudah. Namun, prinsip inilah yang dipegang teguh oleh pengurus Masjid Al-Muttaqin yang berlokasi di Jalan Gresik Gadukan Nomor 99, Surabaya.
Masjid ini tak pernah sepi. Selain menjadi tempat beribadah, lokasinya yang berada di tepi jalan strategis membuat masjid ini kerap menjadi tempat singgah para musafir untuk beristirahat, menyeruput secangkir kopi atau wedang jahe hangat, hingga melepas lelah di tengah perjalanan.
Sekretaris Takmir Masjid Al-Muttaqin sekaligus Sekretaris PCM Krembangan, Mochammad Yusuf, S.Th.I., menjelaskan bahwa konsep “Masjid Ramah Musafir” sengaja dihadirkan untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan.
“Masjid ini secara kebetulan di pinggir jalan. Saya perhatikan banyak sekali para musafir mereka harus beristirahat, capek dan sebagainya. Masjid kita insya Allah kita buka 24 jam. Namanya Ramah Musafir. Jadi kami sediakan di sini semacam kopi, wedang jahe. Silakan mengambil dan silakan istirahat di sini,” ujar Yusuf, Ahad (1/11/2026).
Bangunan Lama Segera Dirobohkan untuk Renovasi Total
Suasana ramai tampak memenuhi masjid pada Ahad pagi saat digelarnya pengajian keluarga sakinah. Namun, di balik aktivitas ibadah yang padat, bangunan lama masjid ini bersiap menghadapi babak baru. Mulai Senin (2/11), bangunan bersejarah tersebut dijadwalkan akan dirobohkan untuk keperluan perluasan dan pembaruan total.
Masjid Al-Muttaqin sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang. Berdasarkan penuturan sesepuh, masjid ini mulanya bernama Masjid Miji Tunggal yang berdiri sekitar tahun 1968. Pada era 1980-an, masjid kemudian berpindah ke lokasi saat ini setelah pihak takmir berhasil membeli lahan baru.
“Tanah ini seharga Rp 1 miliar sehingga kita bangun sementara segini,” kenang Yusuf.
Seiring berjalannya waktu, bangunan tua tersebut dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menampung jemaah yang kian bertambah. Terlebih lagi, posisi permukaan bangunan lama memiliki selisih ketinggian sekitar 1,5 meter dari jalan raya, sehingga konstruksi baru dinilai mendesak untuk dibuat jauh lebih kuat dan aman.
Tahap Pembangunan dan Kebutuhan Dana
Sebagai langkah awal persiapan renovasi, takmir telah melakukan pengurukan tanah serta pemasangan pondasi dengan estimasi biaya mencapai Rp 150 juta.
“Insya Allah masjid yang lama akan kita robohkan dan kita awali dengan cara menguruk tanah dulu. Kemudian sudah dipasang pondasi,” jelas Yusuf.
Dalam perencanaan renovasi ke depan, Masjid Al-Muttaqin akan disulap menjadi bangunan megah dua lantai dengan kapasitas yang jauh lebih luas. Jika bangunan awal memiliki ukuran 10×10 meter, masjid baru nantinya akan berdiri di atas area berukuran sekitar 15×20 meter.
Untuk merampungkan keseluruhan tahap pembangunan lanjutan ini, takmir memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp 400 juta. Pihak takmir pun membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat dan para dermawan yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya untuk berdonasi.
“Kami mengajak warga bisa berdonasi. Mudah-mudahan bisa lancar,” harapnya.
Komitmen Pelayanan Tanpa Henti
Meski proses pembongkaran dan pembangunan ulang akan segera dimulai, satu hal dipastikan tidak akan berubah: tagline Ramah Musafir akan tetap dipertahankan.
Bagi jajaran takmir Masjid Al-Muttaqin, masjid bukan sekadar tempat pelaksanaan ibadah mahdhah, melainkan juga rumah singgah yang penuh berkah bagi siapa saja yang kelelahan di jalan. Dan selama 24 jam penuh, pintu kebaikan itu akan terus terbuka. (Yuda)

















