Surabaya, Delikjatim.com – Al-Qur’an merupakan pedoman hidup manusia. Sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membaca, mempelajari, dan mengamalkannya.
Berbagai metode dihadirkan untuk mempermudah masyarakat dalam membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Salah satu metode dalam Pembelajaran Al Qur’an adalah Metode Tilawati.
Demikian disampaikan Kepala SD Muhammadiyah 29 Surabaya, Jatim MA ketika membuka pembinaan standarisasi tilawati guru dan karyawan di ruang kelas 1 A Sekolah Tahfidz Berkemajuan SD Muhammadiyah 29 Surabaya yang lebih dikenal dengan SD Mudalan, Sabtu (1/10/2022).
“Program tersebut sengaja digelar untuk meningkatkan kualitas bacaan dan teknis pengajaran Al-Qur’an, karena kami menyadari bahwa Al-Qur’an merupakan masalah yang paling pokok, sebagus apapun, dan sebanyak apapun hafalannya, bila belum lancar juga fasih bacaan Al-Qur’an maka akan terasa hambar”, terang Jatim.
Lanjut Jatim, Al-Qur’an akan menjiwai semua mata pelajaran (mapel) dan aktivitas yang ada di sekolah, sehingga program standarisasi tilawati menjadi program yang paling prioritas dari semua program yang ada.
“Mudah-mudahan, dengan memprioritaskan pembelajaran Al-Qur’an, siswa akan memiliki bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar, sehingga lulusan SD Muhammadiyah 29 Surabaya benar-benar dapat membanggakan dan bisa dipertanggung jawabkan untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi”, harap Jatim.
“Semoga Allah SWT, senantiasa memberi kekuatan dan kemampuan dalam mengembangkan pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing secara Nasional, dan selalu mengharap Ridho-Nya”, tutup Jatim.

Sementara itu, pembina tilawati dari Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya, Imam Safi’i, S.S., M.Pd. memaparkan, tujuan dilakukannya kegiatan tilawati sebagai upgrading pembelajaran guru-guru SD Muhammadiyah 29 Surabaya supaya lebih fokus dalam mengajar dikelasnya.
“Setiap lembaga tilawati mempunyai standard (SOP) cara mengajar, mulai dari media, tahapan, juga targetnya. Guru harus mengikuti metode tersebut dan nanti akan ada evaluasi apakah sudah sesuai dengan standard atau belum”, ungkap Imam Safi’i.
Lanjut Imam Safi’i, tingkat kesulitannya ada dipraktek lapangan. Situasi dan kondisi antara lembaga yang berbeda, serta motivasi dari pihak keluarga kepada anak-anak.
Imam Safi’i berharap, karena SD Muhammadiyah 29 Surabaya termasuk sekolah yang baru, bisa menjadi percontohan dari pelaksanaan pembelajaran metode tilawati sesuai dengan target kualitas dan target waktu, waktunya tepat, kualitasnya juga hebat. (Yuda).
Editor : Redaksi

















