Bangkalan, Delikjatim.com – Teripang merupakan hewan laut yang yang hidup pada dasar substrat pasir perairan dangkal, lumpur pasir, hingga dalam lingkungan terumbu karang.
Hewan laut ini merupakan sumber protein hewani yang telah di konsumsi oleh banyak kalangan hingga manca negara. Manfaat teripang seperti dapat menyembuhkan luka, dapat mengobati kerusakan pada sistem kerja ginjal, hingga saluran pencernaan.
Pada umumnya teripang yang selama ini digunakan masyarakat sebagai olahan pokok seperti tumisan, hingga campuran sayur sup tidak dapat menjanjikan hasil lebih atau dapat merubah kondisi perekonomian bagi pengolahnya.
Berbeda halnya dengan Olahan Teripang yang selama ini sudah buming di jenis makanan populer Indonesia, Hingga sampai saat ini olahan kerupuk teripang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.
Kerupuk teripang asal desa Junganyar telah menjadi produsen untuk beberapa tempat di Indonesia. Mulai dari daerah Bangkalan, Surabaya, hingga ke luar provinsi seperti Kalimantan dan kota-kota besar lainnya.
Namun dibalik banyaknya peminat dari kerupuk teripang sendiri, ternyata terdapat bagian dari teripang yang kurang diminati oleh konsumen. Menurut Ibu Julaiha, selaku produsen kerupuk teripang menyatakan “Kalo keroan, peminatnya kurang, Biasanya diolah sendiri untuk dijadikan lauk makanan keluarga”.
Keroan sendiri merupakan daging dari teripang yang kurang memiliki nilai ekonomis tinggi. Padahal, di dalam keroan mengandung banyak protein yang baik untuk tubuh.
Mencerna subtansial permasalahan yang didapat saat observasi di desa Junganyar, Mahasiswa UTM yang tergabung dalam kelompok intervensi Prodi Psikologi mencoba berinovasi untuk membuat olahan daging teripang menjadi sambal kemasan agar bisa menaikkan nilai jual yang ekonomis. Sabtu, 19 November 2022.

Sebelum memulai pelatihan, para mahasiswa bekerja sama dengan masyarakat Junganyar untuk menggali lebih dalam informasi mengenai teripang dan keroan itu sendiri. Hingga akhirnya, mahasiswa menemukan opsi dalam meningkatkan nilai jual keroan yang terinspirasi dari “Eat Sambel”.
Eat sambel sendiri merupakan olahan sambal yang di campur dengan beberapa lauk seperti cumi, cakalang, ebi, lalu di kemas dalam kemasan kaleng maupun botol plastik. Dari inspirasi tersebut, mahasiswa mencetuskan olahan keroan yang dicampur sambal dalam kemasan.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa memberikan informasi terkait teripang kepada masyarakat, agar masyarakat memahami lebih jauh manfaat dari teripang. Kemudian mahasiswa melakukan praktek masak sambal keroan secara langsung agar masyarakat Junganyar paham cara membuat sambal keroan sendiri.
Sambal keroan sendiri dikemas menggunakan botol plastik ukuran 150 ml disertai dengan label sticker agar menambah unsur estetika kemasan produk. Hal itu sebagai upaya menarik minat konsumen terhadap sambal keroan Junganyar. Selanjutnya, untuk pemasaran, masyarakat Junganyar menggunakan sosial media untuk mempromosikan produk.
Sambal keroan ini diketahui dapat bertahan selama 8-9 hari dalam suhu kulkas. Sehingga produk sambal keroan sendiri memiliki nilai jual yang ekonomis, praktis, mudah di konsumsi dan dibawa kemana mana. (Mir_Pers)


















Inspirasi yg bagus untuk memajukan ekonomi masyarakat desa