Surabaya, Delikjatim.com – Keluarga besar Pemuda Muhammadiyah Surabaya menyampaikan salam hormat dan terima kasih kepada seluruh keluarga besar Bangbang Wetan dan Kiaikanjeng karena telah banyak membersamai masyarakat Indonesia khususnya Surabaya dalam majelis yang hangat dan penuh silaturahim, menemukan hati dengan hati, sehingga banyak ilmu serta pengalaman yang dapat dibagi bersama-sama.
Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) kota Surabaya Alfianur Rizal RRA MPd ketika menghadiri Bangbang Wetan bertajuk “Climate Reformer” yang digelar di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim, Jumat (29/12/23). Kegiatan tersebut merupakan forum atau majelis yang digagas Cak Nun dan rutin dilaksanakan 1 bulan sekali.
“Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), khususnya Pemuda Muhammadiyah Surabaya akan selalu siap untuk terus berkolaborasi dengan Bangbang Wetan dan berbagai majelis maupun komunitas untuk bersama-sama memperluas dan menguatkan silaturahim dalam upaya menghadirkan iklim yang sejuk dan gembira dalam segala momentum atau fenomena yang ada di Indonesia maupun Surabaya,” ujar Waka Kesiswaan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya tersebut.
Lanjut Alfi, bangbang wetan merupakan salah satu contoh majelis atau forum yang mampu menyatukan idiom-idiom yang berbeda dengan mengedepankan “ademe ati”, dan juga menguatkan etos “sinau bareng” serta gotong royong membangun masyarakat madani serta paripurna, sehingga keluarga besar Pemuda Muhammadiyah menghaturkan banyak terima kasih serta terus mendoakan keluarga besar Bangbang Wetan untuk tetap “awet” dan tidak pernah pernah berhenti dalam menyatukan rasa.
“Maka Pemuda Muhammadiyah Surabaya juga sangat berharap kepada seluruh elemen masyarakat Surabaya terutama para pemuda-pemuda yang ada di Surabaya untuk saling menjaga “guyube seduluran”, merawat rasa, apalagi mendekati momentum politik 2024, harus semakin mengencangkan tali silaturahim, saling mengingatkan untuk “ademe ati”, agar tidak ada fenomena “bedo pilihan, pedot seduluran”, warga Surabaya khususnya para pemuda yang ada di Surabaya harus “nguatno ati” untuk saling mengutamakan “seduluran”,” tandasnya.

















