20230111_185931
20230111_185931
Shadow

Sebelas Tahun FRPB Pamekasan, Dari Semangat Relawan Hingga Garda Kemanusiaan Madura

120x600
banner 468x60

Pamekasan, Delikjatim.com – Genap sebelas tahun sudah Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan hadir dan mengabdi untuk kemanusiaan. Berdiri sejak 1 November 2014, organisasi ini terus bertransformasi dari gerakan kecil para relawan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana dan aksi sosial di Kabupaten Pamekasan.

Budi Cahyono, pendiri sekaligus Ketua FRPB Pamekasan, mengingat kembali awal mula terbentuknya forum tersebut. “Kami mulai dari niat tulus membantu sesama, tanpa dukungan besar. Semua berangkat dari semangat gotong royong dan keikhlasan,” ujarnya kepada delikjatim (31/10).

Pada awal berdirinya tahun 2014, organisasi ini bernama Relawan Penanggulangan Bencana Pamekasan. Dua tahun kemudian, tepatnya November 2016, nama itu berganti menjadi Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk mengakomodasi lebih banyak organisasi kemanusiaan agar bisa bergabung tanpa menghilangkan identitas induk masing-masing.

Langkah penting lainnya terjadi pada 2020, ketika FRPB Pamekasan memperoleh pengesahan hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Dengan legalitas itu, FRPB semakin kuat secara kelembagaan dan diakui sebagai mitra resmi pemerintah daerah dalam bidang penanggulangan bencana.

Seiring waktu, kiprah FRPB kian meluas. Sejak 2018, mereka aktif mengedukasi pelajar dan guru tentang mitigasi bencana. Program ini terus diperluas hingga 2025, mencakup sebelas sekolah di wilayah Pamekasan. Selain memberikan materi kebencanaan, para relawan juga menanamkan nilai kesiapsiagaan dan solidaritas sosial.

Pada November 2023, salah satu relawan FRPB, Chandra Kirana, mencatat prestasi nasional dengan meraih juara tiga Guru Berprestasi Tingkat Nasional dari Kementerian Agama RI. Pencapaian itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh anggota forum.

Awal 2025, FRPB kembali menunjukkan aksi nyata untuk lingkungan. Bersama TNI AL Batuporon dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), mereka menanam seribu bibit mangrove di Pantai Lembung Galis sebagai langkah mitigasi abrasi dan perubahan iklim. Tak lama berselang, pada Oktober 2025, FRPB melaksanakan latihan vertical rescue di Dam Samiran bersama Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) untuk meningkatkan keterampilan penyelamatan di medan ekstrem.

Selain fokus pada kebencanaan, FRPB juga menjalankan layanan ambulans gratis bagi masyarakat. Program ini menjadi bagian dari kepedulian sosial forum di luar situasi darurat bencana. “Kemanusiaan tidak hanya soal menolong saat bencana, tapi juga hadir di setiap kesulitan warga,” kata Budi Cahyono.

Dalam bidang kaderisasi, FRPB aktif melibatkan relawan muda dalam kegiatan regional, termasuk Jambore Forum Pengurangan Risiko Bencana Jawa Timur 2025. Kegiatan tersebut menjadi wadah pembelajaran dan regenerasi bagi para calon relawan tangguh.

Memasuki usia sebelas tahun, FRPB Pamekasan menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, mengedukasi, membantu, dan menjaga semangat kemanusiaan di bumi Madura.

“Relawan tidak menunggu bencana datang. Mereka belajar, bergerak, dan bertahan demi kemanusiaan,” tutup Budi Cahyono.

banner 336x280
Penulis: Syaiful Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Artikel terproteksi !!